Showing posts with label Chicken Soup. Show all posts
Showing posts with label Chicken Soup. Show all posts

06 December 2008

Lima Menit Saja

Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. "Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.
"Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya. "Lihat anak yangsedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,"sambungnya, memperkenalkan.

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?"Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, 

"Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok, yaaa...?" Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. 

"Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?"Lagi-lagi Jack memohon, 

"Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya?Boleh ya, Yah?" pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Pria itu bersenyum dan berkata, "OK-lah, iyalah..."
"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar," kata ibu yang di sampingnya, melihat adegan itu, dan tersenyum senang dengan sikap lelaki itu.
Pria itu membalas senyum, lalu berkata, "Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John.
Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yangmemperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya...."
Hidup ini bukanlah suatu lomba.

Hidup ialah masalah membuat prioritas. Prioritas apa yang Anda miliki saat ini? Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akanmenyesal selamanya.

Sekuntum Mawar dengan Tangkai yang Panjang

“Setiap hari sejak Jack Benny, suamiku, meninggal dunia, tukang kembang itu mengirim satu bunga mawar merah yang tangkainya panjang ke rumah…” demikian Mary mulai bertutur. “Selama beberapa minggu pertama, aku berada dalam keadaan sangat bersedih. Aku tidak pernah sadar untuk bertanya dari siapakah mawar-mawar itu.

“Aku belum sanggup mulai mengungkapkan kepedihan yang kurasakan. Kepergian Jack… perpisahan kami setelah bersama-sama dengan sempurna selama empat puluh delapan tahun. Perasaan-perasaanku diliputi kesepian yang hebat sekali, meskipun aku dikelilingi oleh para kerabat dan orang tersayang, sahabat-sahabat karib yang mencoba untuk menghiburku.

“Jack meninggal sehari sesudah Natal. Tahun Baru tahun1975 datang dan pergi tanpa kuperhatikan. Aku mendengar orang menjadi ‘mati rasa karena sedih,’ tetapi aku tidak pernah sepenuhnya memahami apa makna kata-kata tadi—sampai aku mengalaminya sendiri.

“Tentunya sudah tujuh atau delapan minggu sebelum pada akhirnya aku menanyai pembantu dari mana asalnya bunga setiap hari itu. Aku terkejut, ia tidak mengerti. Aku menelepon penjual bunga dan menanyakan kepadanya…

“Ia memberitahuku bahwa lama sebelum Jack meninggal, Jack mampir ke tokonya untuk mengirimkan sebuah karangan bunga kepada seorang sahabat. Ketika Jack telah meninggalkan tokonya, tiba-tiba ia balik kembali dan berkata, ‘David, andaikata sesuatu terjadi atas diriku, aku ingin agar kau mengirimkan setangkai bunga mawar merah setiap hari kepada bonekaku…’

“Setelah penjual bunga itu selesai, aku diam sejenak, dan air mata mulai membasahi wajahku. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan mengucapkan selamat berpisah.”

Berikutnya, Mary mengetahui bahwa Jack betul-betul menyediakan dana untuk bunga-bunga itu dalam surat wasiatnya. Setangkai mawar merah sempurna harus diserahkan kepada Mary setiap hari… selama sisa hidup Mary

Mary Livingstone Benny
From Chicken Soup for The Singles Soul

02 December 2008

Kuatnya Sebongkah Harapan

Dahulu, ada seorang pengusaha yang cukup berhasil di kota ini. Ketika sang suami jatuh sakit, satu per satu pabrik mereka dijual. Harta mereka terkuras untuk berbagai biaya pengobatan. Hingga mereka harus pindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana. Sang suami pun telah tiada.

Beberapa tahun kemudian, rumah makan itu pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil sebelah pasar.

Setelah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang istri dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota. Cucunya sudah beberapa. Orang-orang pun masih mengenal masa lalunya yang berkelimpahan. Namun, ia tak kehilangan
senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli.

Wahai ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?
"Harapan nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar, karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu kita tak kan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian.
Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia".


salam kasih & hangat untuk Anda semua,

peace & love

Sumber : Chicken Soup For The Soul

Harapan


Harapan adalah rak
Tempatku menggantungkan impian
Hati-hati aku menempatkan
Sepotong bagian masa depan
Pada Harapan.

Harapan adalah kotak
Tempatku menyimpan berbagai pikiran.
Hati-hati aku melipat
Segala aspirasi untuk
Dicobakan.

Harapan adalah rak
Tempatku meletakkan ketakutan
Hati-hati mereka kusisihkan
Agar tidak makin
Berkembang

Harapan adalah rak
Tempatku menggantung keberhasilan
Dengan bangga memperlihatkan
Segala yang berhasil kuwujudkan, dengan bantuan
Harapan

Kelsey Brunone
From Chicken Soup for the Teenage Soul Letters

MeMbeR FuDoRinRinFu~